Rabu, 06 April 2016

Cerpen : Satria Piningit


 
OLEH : TF Nirwana

Laki-laki itu berdiri termenung di tepi pantai Parangtritis, memandang lurus laut lepas, buih-buih ombak yang menepis kakinya saling berlomba membasahi hingga batas betisnya. Sementara orang-orang berlarian dan teriak-teriak,”ada sunami, ada sunami…”
Laki-laki yang berdiri di tepi pantai, tak segera berlari atau beranjak dari tempatnya, ia seperti terhipnotis dan tak mampu menggerakan tubuhnya, karena didepannya gulungan ombak yang tinggi melampaui tubuhnya langsung menyergap dan menenggelamkannya.
Laki-laki yang tergulung ombak pantai laut kidul pantai Parangtritis menggerakan tubuhnya karena ada yang menyentuhnya, ia terbangun. Lalu mengamati sekelilingnya, ia jumpai ada seorang gadis yang bersimpuh di bawah pembaringannya, lalu bertanya,”Siapa engkau dan dimana aku ini?”
“Aku, Pujantini. Tuan tamu kami…”, Jawab gadis itu sambil membungkukkan badannya.
“Tamu? Tamu kami? Maksudnya?, sambil membetulkan badannya agar ia bisa duduk dan lebih leluasa untuk melihat sekelilingnya.
“Ya tuan, tuan tamu kami, ini Astina Nyi Ratu, tuan ada di salah satu ruangan dari seribu satu ruangan yang kami miliki”, ujar gadis itu.
“Nyi Ratu? Nyi Ratu Siapa? Lalu siapa anda, kok ada dalam ruangan ini?”, lanjut laki-laki itu, karena tidak mengerti, mengapa ia ada dalam ruangan yang terang benderang dan berkilauan penuh cahaya warna-warni, sekeliling ruangan di dominasi warna hijau.
“Aku, Pujantini, dayang Nyi Ratu, Nyi Ratu adalah pemilik astina ini, Nyi Ratu selalu menolong orang-orang yang tersesat di dalam laut lepas ini”, kata gadis yang ternyata dayang-dayang astina dan mengaku bernama Pujantini.
Laki-laki itu terdiam, sambil mengingat-ingat kembali, mengapa ia bisa tiba di tempat ini, didalamnya penuh cahaya berkilauan, ia ingat saat berdiri di tepi pantai, tiba-tiba ombak hitam pekat menggulung tubuhnya, kemudian ia tidak ingat apa-apa, setelah ingat ia ada dalam ruangan yang sangat indah, penuh nuansa warna hijau lembut ini.
Ia kemudian bertanya,”Pujantini, apakah aku sedang di dalam laut?”, tanya laki-laki itu pada pujantini.
“Ma’af tuan, jangan katakan di dalam laut, katakan di dalam astina saja tuan.”, jawab Pujantini, sambil memandang penuh harap agar menggunakan kata-kata yang semestinya.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, masuklah tiga orang gadis dengan membawa tumpukan pakaian berkilauan yang tersusun rapi di atas tempat sejenis baki. Wanita yang masuk terakhir menutup daun pintu, sedang yang dua orang gadis langsung mendekat kearah pembaringan, lalu meletakkan tumpukan pakaian di atas meja sebelah kiri tempat tidur.
Salah satu diantaranya berkata,”Tuan, silahkan berdiri lalu menghadap cermin itu”
Laki-laki itu menuruti perintah salah satu gadis yang baru masuk tadi, kemudian keempat gadis itu berdiri dibelakang laki-laki yang terhempas di dalam ruangan yang penuh dengan warna hijau.
Salah satu gadis bergerak, tampak dari cermin lalu mengambil tumpukan pakaian yang tadi diletakkan di atas meja disamping pembaringan. Dengan gerakan yang tidak tampak kasat mata, terjadi sesuatu yang aneh pada diri laki-laki itu, seluruh tubuhnya telah mengenakan pakaian yang di bawa ketiga gadis tadi. Pakain yang sangat indah dengan tenunan warna emas bercampur warna hijau.
Laki-laki itu terkagum-kagum melihat dirinya di dalam cermin, sambil bergumam,”Aku kah itu?”
Ia tidak yakin pada penglihatannya, seakan-akan bukan dia yang terpantul di dalam cermin itu. Ia cukup lama memandang dirinya, ia merasa mulai mencintai dirinya karena baru kali ini ia baru mengenal dirinya. Selama ini ia merasa tidak bisa melakukan tindakan apa-apa dalam mengarungi kehidupannya, ia terus berusaha menemukan dirinya, siapa dirinya yang sebenarnya, ia tidak pernah tahu. Ia tahu dirinya adalah sesosok manusia yang selalu berusaha mengenal lingkungannya dan ia punya harapan untuk mengubah lingkungannya agar mau mengikuti kemauannya.
Hari demi hari ia lalui dengan melantunkan tembang-tembang kehidupan. Ia yakin tinembang yang ia nyanyikan dapat menghibur lingkungan kehidupannya. Matanya terus menatap cermin di mana di dalam cermin itu tampak dirinya dan dibelakangnya empat orang gadis yang menatapnya.
Salah seorang gadis kemudian menghampiri dirinya lalu berkata,”Raden, sekarang Raden harap ikut bersama kami, bersama menghadap Nyi Ratu”
Laki-laki itu terkejut dan bertanya,”Raden? Kau sebut aku Raden? Lalu siapa Nyi Ratu yang kau maksud?”
Keempat gadis itu tidak menjawab, lalu salah seorang dari mereka bergerak menuju pintu dan membuka pintu. Tangannya meempersilahkan laki-laki itu agar segera mengikutinya. Laki-laki yang disebut Raden bergerak menuju pintu, ia berusaha untuk memahami lingkungan barunya, sesegera mungkin untuk beradaptasi.
Setelah keluar ruangan, laki-laki itu takjub melihat ruangan yang sangat bersih, dilantainya terhampar permadani dengan warna serba hijau lembut, ia merasa seperti berada di padang lumut. Keempat gadis itu berjalan dibelakang laki-laki yang disebut raden.
Selama menyusuri lorong-lorong antar ruangan, bau wangi menyengat yang asalnya dari ujung lorong menyusup ke dalam rongga-rongga hidungnya. Setelah sampai di ujung lorong tampak di atas singgasana duduk seorang wanita teramat cantik, lalu berdiri menyambut kedatangan tamu yang ditunggu-tungu itu, lalu berkata,”Selamat datang di Astina Buih Samodra Biru, lihatlah sekelilingmu, dan lihatlah ke atas!”
Pandangan mata laki-laki yang disebut Raden menebar keseluruh ruangan, lalu ia mendongakkan kepalanya. Ia terkejut, serasa dirinya ada di dalam aquarium. Banyak binatang-binatang laut yang berkeliaran mengitari balairung. Lalu ia bertanya,”Siapakah aku dan dimanakah aku?”
Wanita yang berpakaian anggun tersenyum lalu mengatakan,”Kau adalah satria piningit, sekarang kau berada di astina ku, aku adalah ratu yang menjaga lautan negeri ini”
Laki-laki itu termangu, tak yakin kalau dia adalah satria piningit yang selama ini diharapkan rakyat negeri, yang katanya gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo.