Sabtu, 04 April 2009

Struktur Dasar Yang Perlu Diterapkan Guru Dalam Proses Belajar Mengajar


STRUKTUR DASAR YANG PERLU DITERAPKAN GURU

DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

A. Pengantar

Guru adalah profesi, guru profesional adalah guru yang memiliki dedikasi tinggi dalam pendidikan, tanpa dedikasi tinggi maka proses belajar mengajar akan kacau balau. Dalam proses belajar menagajar, yang telah berlangsung di dalam kelas, dapat dietemukan beberapa komponen yang bersama-sama mewujudkan proses belajar mengajar yang dapat juga dinyatakan sebagai struktur dasar dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini guru sebagai pendidik dan murid sebagai peserta didik dapat saja dipisahkan kedudukannya, akan tetapi mereka tidak dapat dipisahkan dalam mengembangkan murid dalam mencapai xita-citanya. Seperti tertuang pada hadis Nabi Khairunnaas anfa’uhum linnaas artinya sebaik baik manusia adalah yang paling besar memberikan manfaat bagi orang lain[1].

Menurut Zakiah Darajat (1992), tidak sembarangan orang dapat melakukan tugas guru, tetapi orang=orang tertentu yang memenuhi persyaratan berikut ini yang dipandang mampu : bertakwa, berilmu, sehat jasmani, dan berkelakuan baik[2].

B. Komponen-komponen Proses Belajar Mengajar

1. Prosedur Didaktik

Istilah prosedur didaktik menunjuk pada kegiatan-kegiatan tenaga pengajar dalam mengelola proses belajar mengajar didalam kelas. Banyak literatur menggunakan istilah “teaching strategi”, “technique”, “method”, dan lain lain. Istilah prosedur didaktik dapat diartikan sebagai prbuatan=perbuatan yang harus dilakukan oleh tenaga pengajar, yang menyangkut penyajian materi pelajaran, agar siswa dapat mencapai tujuan instruksional tertentu atau denagan cara sefektif mungkin. Tindakan ini dapat ditentukan dalam rangka persiapan pengajaran. Pelaksanaannya saat interaksi antara guru dan siswa dalam kelas atau luar kelas (ruangan).

Prosedur-prosedur didaktik dapat digolongkan menurut tiga pola, yaitu :

1) Pola Narasi (pengisahan), materi pelajaran disajikan oleh guru dan penyajiannya dipimpin oleh guru pula.

2) Pola Perundingan Bersama, materi pelajaran dibentuk oleh guru bersama siswa Pimpinan dapat dipegang oleh guru atau siswa.

3) Pola Pemberian Tugas, siswa melakukan kegiatan yang berkaitan dengan materi pelajaran, karena tugas yang diberikan oleh guru. .

Khusus untuk pola 2 dan 3, dapat dibentuk kelompok agar terjadi interaksi antara tenaga pengajar dan kelompok siswa atau interaksi antar kelompok.

2. Media Pengajaran

Menurut E. De Corte media pengajaran dapat diartikan sebagai sarana nonpersonal yang digunakan atau disajikan oleh tenaga pengajar, yang memegang peranan dalam proses belajar mengajar, untuk mencapai tujuan instruksioanl..

Dalam beberapa pandangan hal-hal yang berhubungan dengan media pengajaran ini dikaitkan dengan Teknologi Pendidikan atau Teknologi Pengajaran, yang pembahasannya meliputi :

a) Penggunaan perangkat elektro mekanis dalam pengajaran, misalnya OHP, VCD, dan LCD.

b) Pengajaran melalui media elektro mekanis, misalnya teaching machine menurut model Skinner dan computer.

c) Model Pengajaran atau teori pengajaran, dengan menerapkan data hasil penelitian dalam berbagai cabang Psikologi dan mengembangkannya, sehingga dapat disebut pendekatan system.

d) Studi ilmiah mengenai penggunaan media dalam proses belajar mengajar (educational technology)..

3. Pengelompokan siswa

Dalam proses nelajar-mengajar memungkinkan kerjasama antara guru dan kelompok siswa atau antara kelompok siswa yang satu dengan kelompok siswa lainnya. Jika dalam kelas dibagi atas beberapa kelompok yang bekerjasama di dalam atau di kuar kelas, maka dapat diikuti tiga pola berikut :

a. Pola bekerja parallel, masing-masing kelompok diberi materi pelajaran atau bahasan yang sama, semua kelompok merundingkan topik yang sama atau mengerjakan hal yang sama. Hasil kajian materi bahasan diberikan dan dibandingkan satu sama lain, selanjutnya ditarik kesimpulan dalam sidang pleno.

b. Pola bekerja komplementer, masing-masing kelompok mendapat tugas yang berbeda, tetapi masing-masing topic merupakan bagian dari keseluruhan mata pelajaran. Melalui laporan yang diberikan masing-masing kelompok, siswa dari kelompok lain juga mendapat materi yang disajikan.

c. Pola campuran parallel dan komplementer, dua kelompok atau lebih mendapat tugas yang sama dan dua kelompok lain atau lebih mendapat tugas lainnya yang berbeda, dan kedaua tugas tersebut dapat dikaitkan.

4. Materi Pelajaran

Materi pelajaran (subject matter) harus dibedakan dari isi (content) dalam tujuan instruksional khusus. Materi pelajaran adalah sarana yang digunakan dalam tujuan instruksional, bersama dengan prosedur didaktik dan media pengajaran, materi pelajaran dapat membawa siswa kedalam tujuan instruksional. Materi pelajaran dapat berupa macam-macam bahan, seperti suatu naskah, persolan, gambar, audio video, dan lain-lainnya.

Misalnya, dalam tujuan instruksional khusus, siswa harus mampu menjelaskan keunggulan dari struktur bangunan candi Borobudur, dengan membuat gambar dan uraian tertulis sebanyak satu halaman folio.

Dengan demikian jelas, bahwa criteria pemilihan materi pelajaran berkaitan erat dengan tujuan instruksional, keadaan awal yang actual dan komponen-komponen lain dalam proses belajar mengajar. Perlu dipilih materi pelajaran yang paling sesuai, baik dari segi kuantitatif maupun kualitatif, sehingga membantu untuk mencapai tujuan intruksioanl seefesien dan seefektif mungkin.

C. Penutup

Proses kegiatan belajar mengajar harus ada interaksi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, sehingga tidak adapat dipsahkan begitu saja, karena keduanya saling membutuhkan. Dalam hal ini akan terwujud pendidik yang berkepribadian kuat, sehimgga profesionalisme guru terbentuk dan peserta didik yang berkompeten.yang mampu mengembangkan wawasan-wawasan baru, sehingga akan diperoleh sumber daya manusia yang berkualitas dan tangguh dalam mencapai harapan-harapannya. Dalam proses belajar mengajar guru dan murid secara bersama-sama harus memahami dan berusaha untuk mampu mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, karena banyak tuntutan bagi peningkatan mutu pendidikan, penanggulangan kenakalan remaja, dan kelambanan sekolah dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan lapangan pekerjaa. Tuntutan itu ditimpakan ke pundak sekolah dengan para guru didalamnya, perlu diingat bahwa guru adalah pahlwan tanpa tanda jasa. Permasalahan pendidikan bila mau jujur bukanlah sekedar persoalan belajar mengajar atau didik mendidik semata, namun merupakan rangkaian sebuah manajerial dalam sebuah sistem yang memerlukan sederetan jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi kahasanah pembelajaran di Indonesia ini.

oOo

DAFTAR PUSTAKA

Ad. Rooijakkers. 1980. Mengajar dengan sukses, Gramedia, Jakarta.

H. Dirawat. 1993, Sistem pembinaan professional dan cara belajar siswa aktif, Grasindo, Jakarta.

Qomari Anwar. 2001. Pendidikan sebagai karakter budaya bangsa, Uhamka Press, Jakarta.

__________. 2002. Reorientasi Pendidikan dan Profesi Keguruan, Uhamka Press, Jakarta.

Winkel, WS. 1989. Psikologi Pengajaran, Gramedia, Jakarta.



[1] Qomari Anwar, Reorentasi Pendidikan dan Profesi Keguruan, Uhamka Press 2002

[2] ibid